Modus Baru Transaksi Narkoba Via Bitcoin, HPHSI Dorong Pemutakhiran Penegakan Hukum

Ketua Himpunan Pemerhati Hukum Siber Indonesia (HPHSI) Galang Prayogo menyoroti peristiwa transaksi narkotika melalui uang virtual atau bitcoin.

Galang menilai, kemajuan teknologi yang tengah ‘menggempur’ Indonesia harus dijadikan tantangan bagi aparat penegak hukum untuk memutakhirkan penyelidikan maupun penyidikan.

“Utamanya mengenai kasus narkoba di Semarang dengan Bitcoin ini. Kasus tersebut merupakan sampel kecil dari skala yang lebih besar lagi dari fungsi Bitcoin dimanfaatkan oleh pelaku kriminal atau gembong narkoba,” kata Galang dalam keterangan yang diterima, Jumat (5/4/2018).

Menurut Galang, praktik pembelian narkoba via Bitcoin yang terjadi di Semarang bisa menjadi pintu gerbang bagi para penegak hukum untuk memahami lebih dalam mengenai virtual currency.

“Karena kalau ‘partai kecil’ saja sudah menggunakan Bitcoin, apalagi yang partai besar?” terangnya.

Menurut Galang, Indonesia yang saat ini masuk dalam kategori darurat narkoba harus memberikan atensi lebih pada transaksi via Bitcoin.

“Bagi para gembong narkoba, Bitcoin menjadi ladang bisnis. Transaksi lebih aman, jadi mereka bisa mematok harga lebih murah,” jelasnya.

“Toh, pengiriman narkoba dari negara asalnya ke Indonesia menjadi mahal lantaran ‘biaya risikonya’, bukan lagi hitung-hitungan produksi. Itu kenapa narkoba via Bitcoin bisa menjadi lebih murah. Risiko terendus aliran uang dari ‘bandar yang mana’ sangat kecil kemungkinannya untuk bisa diketahui,” tegasnya.

Hal itu tentu memunculkan kekhawatiran tersendiri. Galang berharap pemerintah bisa menegakkan aturan yang lebih tegas mengenai Bitcoin.

Tak hanya dilarang sebagai alat pembayaran di Indonesia, melainkan juga menciptakan sebuah aturan yang memonitor para aplikator, alias penyedia jasa penukaran Bitcoin.

“Karena di Indonesia ini, setiap kemajuan teknologi masuk, setiap kali itu pula evolusi kejahatan lebih cepat. Fungsi negatifnya selalu terdepan daripada efek positif yang timbul. Ini harus menjadi catatan pemerintah dan para aparat penegak hukum,” katanya.

Diberitakan, Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP Jateng) meringkus pengguna narkoba jenis ekstasi bernama Candika Pratama (22) pada Senin (26/3/2018) lalu pukul 21.30 WIB.

Candika ini ternyata merupakan seorang mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang.

Mahasiswa semester delapan ini ditangkap di depan sebuah warung angkringan, Jalan Tirto Usodo Timur, Pedalangan, Banyumanik, Semarang.

Saat itu, Tim Bidang Pemberantasan BNNP Jateng menggeledah tas Candika yang berisikan satu amplop putih.

Amplop itu berisi plastik yang di dalamnya terdapat sembilan butir narkotika jenis ekstasi.

Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Tri Agus Heru menuturkan bahwa tersangka ini menggunakan uang virtual bitcoin untuk membeli beberapa butir pil ekstasi dari Belanda.

Ia menambahkan bahwa Candika membeli sembilan butir pil ekstasi seharga Rp 800 ribu.

“Bitcoin seharga 800 ribu. Ini jadi kasus kedua yang diungkapkan BNNP Jateng lewat uang virtual koin,” kata Brigjen Pol Tri Agus dilansir Tribunjateng.com, Rabu (4/4/2018).

Lebih lanjut, tersangka ini sudah dua kali melakukan transaksi pembelian ekstasi melalui bitkoin.

“Saat Desember 2017 sebanyak dua butir. Dan Maret 2018 sembilan butir,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Emas Semarang, Tjerja Karja Adi mengakui bahwa pada transaksi pertama lolos dari pemeriksaan pihaknya.

Ia mengungkapkan bahwa pada saat itu pihaknya menerima banyak surat pos masuk di kantor bea cukai sehingga dapat lolos.

“Kita telusuri lebih lanjut, ternyata transaksi pertama dan kedua sama yakni tidak tertera nama pengirim. Asal pengirim juga sama dari Belanda. Maka setelah diselidiki, ternyata benar ada transaksi ekstasipada surat pos yang menggunakan jasa Kantor Pos ini,” sambung Tjerja Karja.

Atas kasus ini, Candika kini ditahan di Rumah Tahanan BNNP Jateng dan dijerat pasal 114 dengan ancaman minimal lima tahun penjara dan maksimal 20 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *