Isu Pendidikan, Brexit, dan Cryptocurrency Jadi Topik Hangat di WEF Hari Ketiga

Para pemenang nobel, Perdana Menteri Inggris Theresa May dan Bill Gates dari Microsoft menjadi pembicara pada hari ketiga, Kamis (25/1), pertemuan World Economic Forum (WEF) 2018 di Davos, Swiss. Isu yang diangkat bermacam-macam mulai dari pendidikan hingga cryptocurrency.

Pemenang Nobel Perdamaian dan pejuang kesetaraan Malala Yousafzai memukau forum yang dihadiri tokoh-tokoh politik dan bisnis dunia. Malala berbicara mengenai pentingnya pendidikan, pada khususnya bagi perempuan yang tidak mendapatkan akses ke sekolah.

“Mendidik anak laki-laki mengenai hak-hak perempuan sangatlah penting. Ketika kita berbicara mengenai isu feminisme dan hak-hak perempuan, kita sebenarnya bicara dengan pria yang mendengarkan. Kita harus mengajarkan anak laki-laki menjadi pria sejati,” kata Malala yang pernah menjadi korban penembakan oleh Taliban karena menuntut pendidikan untuk perempuan.

Menjawab pertanyaan dunia seputar Brexit, PM Inggris Theresa May memastikan para hadirin WEF bahwa Inggris tetap mempertahankan prinsip perdagangan bebas.

“Meskipun Inggris akan meninggalkan Uni Eropa (UE), Inggris akan tetap mendorong perdagangan bebas. Setelah meninggalkan UE, Inggris akan tetap mendorong pembahasan bilateral,” kata May.

Terkait masalah perubahan iklim, Gubernur Washington Jay Inslee, mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump adalah satu-satunya orang yang tidak mempercayai adanya krisis perubahan iklim. Seperti diketahui, Trump menarik AS dari Paris Agreement. “Hanya ada satu orang dalam parade ini,” kata Inslee.

Pendiri Microsoft Bill Gates, yang baru saja membantu melunasi utang Nigeria sebesar US$ 76 juta, berbicara mengenai isu kesehatan, pada khususnya kematian prematur. Menurut Gates, angka mortalitas anak di bawah umur lima tahun sekarang semakin membaik, atau berada di posisi kurang dari 20 persen (di luar zona perang), dibandingkan pada era 1960-an di mana mortalitas mencapai 20 persen.

“Target 15 tahun ke depan adalah sekitar 2,5 persen tetapi hal itu membutuhkan pendanaan dan inovasi,” kata Gates.

Pemenang Nobel Ekonomi Robert Shiller berbicara mengenai cryptocurrency yang tengah menjadi perdebatan hangat. Menurutnya, bitcoin hanyalah eksperimen yang tidak akan bertahan lama.

“Bitcoin itu eksperimen yang menarik, tetapi bukan fitur permanen dalam kehidupan kita. Kita terlalu fokus pada bitcoin, seharusnya fokus itu kita perlebar ke teknologi blockchain yang memiliki aplikasi lain,” kata Shiller.

Secara terpisah, Managing Director IMF Christine Lagarde juga menyinggung soal bitcoin ketika diwawancarai Bloomberg TV. Menurut Lagarde, teknologi blockchain memiliki banyak manfaat tetapi bitcoin sendiri memiliki banyak sisi negatif yang membuatnya sulit diterima secara luas, seperti isu pemborosan energi dan pencucian uang.

Soal bitcoin sebagai mata uang, Lagarde tidak menutup kemungkinan itu dengan mengatakan bahwa, “pemerintah sebaiknya mencari pendekatan berbeda terkait bitcoin”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *