Bitcoin Dinilai Komoditas High Risk, Harus Siap Risiko Naik Turun Harganya

Bitcoin yang merupakan uang virtual kini banyak dijajaki oleh masyarakat yang ingin berinvestasi. Meski keberadaannya belum dilegalkan oleh Bank Indonesia (BI), namun Bitcoin tetap menunjukkan eksistensinya sebagai investasi baru.

CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan mengatakan, Bitcoin adalah aset yang memiliki risiko harga yang naik dan turun. Hal ini disebabkan karena memang pergerakan harga Bitcoin tergantung dari bagaimana penawaran dan penjualannya di pasar.

“Yang perlu dicermati ini adalah komoditas high risk jadi harus siap dengan risiko naik turunnya,”.

Dia melanjutkan, risiko investasi Bitcoin saat ini setara dengan investasi di pasar modal. Pasalnya, Bitcoin masih sama dengan investasi pasar komoditas pada umumnya, yakni harganya sangat ditentukan oleh penawaran dan permintaan di pasar.

Meski demikian, posisi Bitcoin yang setara dengan valuta asing, tanpa terikat peran Bank Sentral, membuat Bitcoin menjadi tempat pelarian para investor yang tengah wait and see melihat perkembangan pertumbuhan ekonomi dunia. “Prospeknya akan sama dengan emas dan perak sebagai safe haven asset class,” tambahnya.

Selain itu, di beberapa negara seperti Jepang, Bitcoin juga menjadi alat pembayaran yang sah, tidak heran jika pada akhirnya investor memilih Bitcoin, meskipun Bank Indonesia (BI) juga masih melarang penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran. “Karena pembayaran di Indonesia hanya dengan mata uang Rupiah,” tukas dia.

Sebelumnya, Peneliti senior The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani melihat minat investor terhadap Bitcoin tinggi karena koin digital tersebut menawarkan kepercayaan kepada investor yang tidak diberikan oleh investasi menggunakan mata uang sah.

Dia menjelaskan, kepercayaan itu tumbuh lantaran bitcoin memberikan kepastian investasi. Sedangkan mata uang sah seperti Dolar Amerika, nilainya cenderung tidak dapat diprediksi. Sehingga, investor mulai mencari alternatif lain dalam investasi yang lebih memberikan kepastian keuntungan, yaitu dalam bitcoin.

Akan tetapi, meskipun memberikan keuntungan bagi investor, kehadiran bitcoin juga membawa ancaman karena tidak menggunakan registrasi resmi. Sehingga, data pemilik yang terekam tidak mudah dilacak. Peluang inilah yang dikhawatirkan akan dimanfaatkan untuk pencucian uang.

BI sendiri, telah menerbitkan aturan terkait penyelenggaraan teknologi finansial (tekfin) atau financial technology (fintech), yaitu Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 19/12/PBI/2017 yang melarang financial technology (fintech) untuk melakukan kegiatan sistem pembayaran dengan menggunakan virtual currency atau mata uang virtual, salah satunya adalah bitcoin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *